Dea Tampil di Nganjuk & Sidoarjo

Pengcab Institut Karate-Do Nasional ( Inkanas ) Bojonegoro akhirnya bisa memastikan menurunkan Dea Marta di dua even yang waktunya hampir bersamaan. Karateka cewek itu bakal mengikuti pekan olahraga pelajar daerah ( Popda ) di Nganjuk, 28 Juli mendatang dan ujian kenaikan tingkat ( Gashuku ) di Sidarjo 30 Juli hingga 1 Agustus nanti.

“ Kita pastikan keikutsertaan Dea di dua ajang tersebut, karena jadwal kedua even tersebut tidak bersamaan. “ kata pelatih tim karate Inkanas Bojonegoro Totok Suyanto kepada Radar Bojonegoro.

Menurut dia, setelah menjalani pertandingan di popda yang dihelat 29-30 Juli nanti, Dea lalu menuju ke Sidoarjo. “ Lega ,karena dia salah satu karateka yang menjadi andalan Bojonegoro pada popda mendatang. Untuk memperoleh hasil maksimal dalam popda seluruh karateka yang dikirim melakukan TC lima kali seminggu. “ jelas Totok.

Di popda, Inkanas Bojonegoro memberangkatkan empat karateka. Selain Dea yang turun di komite minimal 53 kg ada nama Ayu di komite minimal 48 kg tingkat SMA. Sementara di sektor putra, Bojonegoro mengirimkan Ujang Suherlana di komite minimal 55 KG DAN Danu Iswahyudi di komite minimal 61 kg.

Inkanas menargetkan minimal menyabet medali perunggu di popda nanti. (di kutip dari Radar Bojonegoro )

Inkanas Hadapi Dua Pilihan

Pengcab Institut Karate-Do Nasional ( INKANAS ) Bojonegoro menghadapi dua pilihan. Dea Marta, salah satu atlet binaan Inkanas, harus memilih salah satu di antara dua kegiatan yang digelar hampir bersamaan.

Pelajar tingkat SMA ini dijadwalkan mewakili Bojonegoro mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) di Nganjuk, 28 Juli hingga 2 Agustus nanti. Selain itu, Dea Marta juga menjadi wakil Inkanas setempat untuk mengikuti Gasukhu (ujian kenaikan tingkat) di Sidoarjo. ”Untuk jadwal Gasukhu pada 30 Juli hingga 1 Agustus 2010, sehingga jadwalnya bersamaan,” ujar pelatih Inkanas Totok kepada Radar Bojonegoro.

Menurut dia, tampil di popda maupun mengikuti Gasukhu sama pentingnya. Dea Marta menjadi andalan Bojonegoro untuk meraih medali di popda. Sedangkan Gasukhu yang berlangsung di gedung Arhanudse Sidoarjo merupakan agenda dua tahun dari Pengurus Besar (PB) Inkanas di Jakarta. Kegiatan ini diikuti semua perwakilan Inkanas di Indonesia. Total peserta ada sekitar 500 atlet. ”Kalau gagal mengikuti kegiatan di Sidoarjo maka harapan Dea untuk naik sabuk bakal pupus,” tutur Totok.

Dia menjelaskan, ada lima atlet Bojonegoro yang diagendakan mengikuti ujian DAN itu. Untuk ujian sabuk cokelat menuju DAN 1 diikuti Rudi Condro, Agil, dan Reza. Sedangkan ujian sabuk hitam dari DAN 1 ke 2 diikuti Mahardika dan Dea Marta.

Sabtu (9/7) lalu, enam atlet Inkanas mendapat penghargaan dari bupati Bojonegoro di Pendapa Malowopati pemkab setempat. Mereka adalah peraih medali di kejuaraan karate antarpelajar se-Jatim di Jombang, Mei lalu. Keenam atlet itu, Satriya Kurnia Yanotama (SDN 1 Kadipaten), Muhammad Iqbal Setiawan (SDN 1 Dander), Alifia Nur Rachma (MIN Kepatihan), Shohibul Mubarokah (MAN 1 Bojonegoro), Lisma Dany Syafruddin (SDN II Kadipaten), dan Aulia Risma Elvari (SDN 1 Kauman).

Tingkatan DAN Dewan Guru terbaru

Dengan berakhirnya Ujian DAN pada Januari 2010 lalu, banyak sekali para Karate-ka yang mulai menyandang tingkatan barunya. Namun selain itu, para Dewan Guru pun juga turut naik tingkat. Selamat….

Berikut merupakan tingkatan barunya :

I DEWAN PENASEHAT – DEWAN GURU

1 Widjojo Soejono DAN VIII
2 Karyanto DAN VIII
3 Ronald Patinasarani DAN VIII

II. DEWAN GURU

NO NAMA MENJADI
1 Tono Soeoed DAN VIII
2 Djafar Djantang DAN VII
3 Bagoes Ellan DAN VII
4 Arjuna Muluk DAN VII
5 Johanes Souisa DAN VII
6 Apris Hamid DAN VII
7 Ruslan Wahab DAN VII
8 Nur Soleh DAN VII
9 Albert Waneri DAN VII
10 Rene E.Soepardi DAN VII
11 Ellong Tjandra DAN VII
12 Herman Muchtar DAN VII
13 Yoyo Supratman DAN VII
14 Sunu Purbo Andaru DAN VI
15 Hakim Mulyono DAN VI
16 Iwan Mucipto DAN VI
17 Jaya Murni DAN VI
18 Syamsu B. Mattalioe DAN VI
19 Surya Fajar DAN VI
20 Rustam Umbas DAN VI
21 Namik Suryadi DAN VI
22 Bert Makalew DAN VI
23 H.Hadismar M.Nur DAN VI
24 Saleh Malawat DAN VI
25 Hardi DAN VI
26 I Gusti Putu Anindya Putra DAN VI
27 Titik Verdi DAN VI
28 Asep Suparman DAN VI
29 Rosmawi DAN V
30 Ridwan Ismaun DAN V
31 Jony Bachtiar DAN V

Perguruan INKANAS didirikan oleh pentolan pendiri LEMKARI

INKANAS didirikan oleh para pentolan pendiri Lemkari yang sudah menyatakan keluar dari Lemkari, setelah mendapat Izin tertulis dari Ketua Umum PB. Lemkari Drs. Taufik Efendi yaitu Jenderal (Purn) Wijoyo Suyono, Drs. Kariyanto, Irjen Pol (Purn) DR. Hadiman, Vence Rumangkang, Irjen Pol Drs. Darwan Siregar, Rahimi Sutan dan beberapa senior ex-Lemkari : Herman Muchtar, Drs Djafar Djantang, Msi, Drs. Arjuna Muluk, Ellong Tjandra, SE, MM , Johanes Souisa, Tono Soe’oed, SH, Noor Soleh, Baginda Sitorus, Ir. Apris Hamid, Dasril Muchtar, Ir. Bagoes Ellan, Dr. Ir. Jaya Murni, Hakim Mulyono, BCAP, Rene Soepardi dan tokoh senior seluruh Indonesia bersama PB. MKC-IND yaitu Ir Simpei Garang M.Eng, Ruslan Wahab, Deofavan, SH, Yasirli dll, melalui kongres MKC-IND yang berlangsung pada tanggal 28 Agustus 2005 di Graha Kadin Kota Bandung, yang berjalan sangat mulus dan lancar, dihadiri oleh 26 Pengda seluruh Indonesia yang merupakan tokoh ex Lemkari di Daerah, dan 6 (enam) Pengda tidak hadir tapi menyatakan dukungannya secara tertulis , selesai Kongres mereka diberi mandat untuk mendirikan Inkanas didaerah dan mensosialisasikan dalam arti luas kepada seluruh masyarakat

Kongres dipimpin oleh Herman Muchtar, dan menghasilkan beberapa keputusan Penting diantaranya, penetapan Logo perguruan yang baru, menetapkan Dewan Guru, terdiri dari Ketua Ir. Simpei Garang M.Eng, Ketua Pelaksana Harian Elong Tjandra SE, , Wakil Ketua Pelaksana Harian Ruslan Wahab dan Ir Bagus Ellan, Sekretaris Drs. Djafar E Jantang,Msi , Kongres juga menetapkan Team Formatur terdiri dari Ketua Herman Muchtar, Sekretaris Deofavan, SH, Anggota Ruslan Wahab, Tono Soe’oed SH, Drs. Djafar Djantang, Team Formatur diberi waktu 1 (satu) bulan untuk menyusun pengurus Lengkap PB. INKANAS 2005-2008, apabila dalam masa belum terbentuk Kepengurusan PB. INKANAS, maka Formatur bertanggungjawab melaksanakan kegiatan Harian.

Dengan berdirinya Inkanas secara otomatis menjadi anggota PB. FORKI, karena mekanisme pembentukan Inkanas dilaksanakan sesuai ketentuan AD/ART Forki Bab V pasal 9 dan disaksikan oleh Ketua Umum PB. Forki Jenderal (Purn) Luhut B Pandjaitan, begitu juga dengan pelaksanaan kegiatan dilapangan bagi atlit, pelatih, wasit sudah dapat membawa nama INKANAS diarena/event Daerah dan Nasional karena sudah mendapat Izin Pindah Perguruan secara kolektif dari Ketua Umum PB. Lemkari Bapak Drs. Taufik Efendi melalui surat Rekomendasi Nomor : 05/PB-LEM/KETUM/VIII/2005.

Bandung, 29 Agustus 2005
PENGURUS BESAR
INSITUT KARATE-DO NASIONAL ( INKANAS)
KETUA TEAM FORMATUR

HERMAN MUCHTAR

PIALA DIKNAS 2010

Tema Kejuaraan “Juara Tidak Datang Tiba-Tiba” dalam pertandingan karate Piala Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang agaknya mampu menjadi magnet bagi peserta. Hal ini dapat terlihat dari tingginya animo karateka untuk mengikuti event kali ini. Sebanyak 783 peserta dari 12 Kabupaten Kota mengikuti kejuaraan yang mempertandingkan kelas Kata dan Kumite tingkat SD, SMP dan SMA.

Kejuaraan Karate Piala Dinas Pendidikan VI Kabupaten Jombang tahun 2010 dibuka oleh Wakil Bupati Jombang Drs. H. Widjono Suparno Msi. Kegiatan yang diawali pada 13 Mei 2010 di GOR Merdeka Jombang ini hasil kerjabareng Dinas Pendidikan, FORKI, dan Disporabudpar. Kepada para peserta, Wakil Bupati Jombang Drs. H. Widjono Suparno Msi yang juga ketua FORKI meminta untuk mengedepankan sportifitas dalam bertanding.

Pertandingan Karate

Pertandingan karate dibagi atas dua jenis yaitu :
1. Kumite (perkelahian) putera dan puteri
2. Kata (jurus) putera dan puteri

Kumite

Kumite dibagi atas kumite perorangan dengan pembagian kelas berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai adalah reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali kepada atlet yang pernah dikalahkan oleh sang juara. Pertandingan dilakukan dalam satu babak (2-3 menit bersih) dan 1 babak perpanjangan kalau terjadi seri, kecuali dalam pertandingan beregu tidak ada waktu perpanjangan. Dan jika masih pada babak perpanjangan masih mengalami nilai seri, maka akan diadakan pemilihan karateka yang paling ofensif dan agresif sebagai pemenang.

Kata

Pada pertandingan kata yang diperagakan adalah keindahan gerak dari jurus, baik untuk putera maupun puteri. Sesuai dengan kata pilihan atau kata wajib dalam peraturan pertandingan.

Para peserta harus memperagakan kata wajib. Bila lulus, peserta akan mengikuti babak selanjutnya dimana dia dapat memperagakan kata pilhan.

Pertandingan dibagi menjadi dua jenis: Kata perorangan dan Kata beregu. Kata beregu dilakukan oleh 3 orang. Setelah melakukan peragaan kata, para peserta diharuskan memperagakan aplikasi dari Kata (bunkai). Kata beregu dinilai lebih prestisius karena lebih indah dan lebih susah untuk dilatih.

Menurut standar JKF dan WKF, yang diakui sebagai Kata Wajib adalah hanya 8 Kata yang berasal dari perguruan 4 Besar JKF, yaitu Shotokan, Wado-ryu, Goju-ryu and Shito-ryu, dengan perincian sebagai berikut:

Shotokan : Kankudai dan Jion.

Wado-ryu : Seishan dan Chinto.

Goju-ryu : Saifa dan Seipai.

Shito-ryu: Seienchin dan Bassaidai.
Karateka dari aliran selain 4 besar tidak dilarang untuk ikut pertandingan Kata JKF dan WKF, hanya saja mereka harus memainkan Kata sebagaimana dimainkan oleh perguruan 4 besar diatas.

Luas Lapangan
Lantai seluas 8 x 8 meter, beralas papan atau matras di atas panggung dengan ketinggian 1 meter dan ditambah daerah pengaman berukuran 2 meter pada tiap sisi.
Arena pertandingan harus rata dan terhindar dari kemungkinan menimbulkan bahaya.

Pada Kumite Shiai yang biasa digunakan oleh FORKI yang mengacu peraturan dari WKF, idealnya adalah menggunakan matras dengan lebar 10 x 10 meter. Matras tersebut dibagi kedalam tiga warna yaitu putih, merah dan biru. Matras yang paling luar adalah batas jogai dimana karate-ka yang sedang bertanding tidak boleh menyentuh batas tersebut atau akan dikenakan pelanggaran. Batas yang kedua lebih dalam dari batas jogai adalah batas peringatan, sehingga karate-ka yang sedang bertanding dapat memprediksi ruang arena dia bertanding. Sisa ruang lingkup matras yang paling dalam dan paling banyak dengan warna putih adalah arena bertanding efektif.

Peralatan Di Dalam Pertandingan Karate

Peralatan yang diperlukan dalam pertandingan Karate
1. Pakaian Karate (karategi) untuk kontestan
2. Hand Protector (pelindung tangan)
3. Shin Guard (pelindung kaki)
4. Obi (ikat pinggang) untuk kedua kontestan berwarna merah/aka dan biru/ao
Alat-alat lain yang diperbolehkan tapi bukan menjadi keharusan adalah:
1. Gum Shield (di beberapa pertandingan menjadi keharusan)
2. Body Protector untuk kontestan putri
3. Groin Protector untuk kontestan putera
5. Pluit untuk arbitrator/alat tulis
6. Seragam wasit/juri
Baju putih
Celana abu-abu
Dasi merah
Sepatu karet hitam tanpa sol
7. Scoring board
8. Administrasi pertandingan
9. Lampu merah, hijau, kuning sebagai tanda waktu pertandingan dengan pencatat waktu (stop watch).

Sumpah Karate, Janji Atlit & Janji Wasit

SUMPAH KARATE :


1. Sanggup memelihara kepribadian
2. Sanggup patuh pada kejujuran
3. Sanggup mempertinggi presati
4. Sanggup menjaga sopan santun
5. Sanggup menguasai diri

Kami atlet FORKI berjanji :

1. Akan bertanding dengan sportivitas yang tinggi dan berjiwa Karate-Do dengan menjunjung sumpah             Karate
2. Akan mematuhi segala peraturan yang telah dan akan ditetapkan oleh Dewan Wasit
3. Akan menerima semua keputusan Dewan Wasit dengan kebesaran jiwa seorang Karate-Ka

Kami Wasit dan Juri FORKI berjanji :

1. Akan memimpin pertandingan ini dengan penuh rasa tanggung jawab dengan menjunjung tinggi Sumpah     Karate
2. Akan memimpin pertandingan ini dengan adil dan tidak akan memihak kepada siapapun demi                       peningkatan prestasi Karate.

Sejarah Karate

SEJARAH BESAR KARATE

Sepanjang sejarah kehidupan manusia, keberadaan beladiri jadi suatu kebutuhan: manusia kerap memanfaatkan kaki dan tangannya sebagai senjata utama guna melindungi diri menghadapi kerasnya kenyataan duniawi.

Asal-usul karate berasal dari kempo alias seni beladiri tinju Cina (China Boxing)-diciptakan oleh Darma, Guru Budha yang Agung, manakala tengah bermeditasi di Biara Shorinji, Mt-Sung, Provinsi Henan, Cina (generasi Darma selanjutnya menyebut beladiri ini dengan nama Shorinji Kempo)-yang berakar di Okinawa melalui kontaknya dengan Cina pada medio abad ke-14. Pada abad itu, pengadilan Bakhuco (di bawah penguasa setempat) di Okinawa membuat larangan penggunaan senjata. Itulah sebabnya embrio beladiri karate muncul.

Dalam budaya (bahasa) Cina, kempo berasal dari kata kara yang berarti Cina dan te yang berarti tangan. Di Jepang, pada proses perkembangannya kemudian, kara berarti kosong dan te berarti tangan.

”Jadi hakikatnya, seni beladiri karate merupakan suatu bentuk beladiri yang mengandalkan tangan kosong”. Lahirnya karate sebagai seni beladiri diketahui pada abad ke-19.
Adalah Matsumara Shukon (1797-1896)-seorang prajurit samurai dan pelindung Raja Soko Okinawa-yang berjasa melahirkan seni beladiri karate. Ia menciptakannya dengan menggabungkan unsur seni militer Jepang (bushido).

Matsumara adalah pendukung adanya dua kebijakan : latihan militer (fisik) dan kesarjanaan (intelektualitas). Ia-lah anggota kelas berkuasa di Pulau Ryuku yang berjasa meletakkan pondasi dasar dan pengembangan ilmu karate.
Gichin Funakoshi, penemu shotokan, mengemukakan suatu filosofi bahwa karate yang sesungguhnya adalah : dalam kehidupan sehari-hari, pikiran dan tubuh seseorang dilatih dan dikembangkan dalam kerendahan hati. Dan, pada sat-saat kritis, ia akan mengabdi seluruhnya pada keadilan.

Pemahaman terhadap karate digambarkan pula sebagai seni perang atau metode beladiri yang meliputi bermacam-macam teknik, termasuk bertahan, menyerang, mengelak, bahkan merobohkan. Latihan karate dapat dibagi menjadi tiga aspek : kihon (dasar), kata (bentuk), dan kumite (lakuan).

Kata karate merupakan kombinasi dari dua karakter (kata) Jepang: kara berarti kosong dan te yang berarti tangan. Maka karate dapat diartikan dengan tangan kosong. Ditambah sufiks (akhiran)-do (baca : doe), berarti cara.
Jadi, karate-do menerapkan karate sebagai cara hidup yang lebih dari sekedar mempertahankan diri.


Dalam karate-do tradisional, kita selalu diingatkan : musuh utama adalah diri kita sendiri.
Funakoshi mengatakan, Pikiran dan teknik menjadi satu dalam karate.

Kita berusaha membuat teknik fisik kita sebagai ekspresi dari apa yang diinginkan pikiran kita, pun meningkatkan pemusatan pikiran kita dengan memahami inti dari teknik fisik. Dengan menyempurnakan gerakan karate, kita juga menyempurnakan jiwa dan mental.

Sebagai contoh, meniadakan gerakan dalam gerakan karate yang lemah dan ragu-ragu dapat membantu menghilangkan kelemahan dan keragu-raguan berpikir, begitu pula sebaliknya. Dengan makna itu, karate menjadi suatu cara hidup, dimana kita mencoba untuk menjadi orang yang kuat, tapi bahagia dan penuh kedamaian. Seperti yang dimaksud Tsutomu Ohshima, Kepala Instruktur (Shihan) Shotokan Karate America (SKA), Kita harus cukup kuat mengekspresikan pikiran kita terhadap lawan, kapan saja, dimana saja. Tapi, kita harus tenang mengekspresikan diri kita secara rendah hati.

Ada salah satu bentuk latihan karate yang unik dalam SKA. Latihan itu dinamakan latihan khusus, yaitu satu seri dari latihan karate dimana kita mencoba untuk menghadapi diri kita sendiri dan menyempurnakan mental dan jiwa kita.

Hasil KEJURNAS Capai Target

Inkanas Bojonegoro bisa bernafas lega. Sebab dalam Kejurnas Piala Gubernur V di Jombang,karateka-karateka Bojonegoro mampu mendapatkan hasil yang patut diacungi jempol. Karena medali yang diperoleh mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

” Peningkatannya sebanding dengan latihan yang dilakoni ” kata Manajer Inkanas Bojonegoro Bambang STM. Dalam Kejurnas tersebut, Inkanas Bojonegoro mendapatkan 1 emas dan 5 perunggu. Medali emas disabet Satriya Kurnia Yanotama dari Kumite +45 Kg pra pemula putra,dia juga menyumbang satu perunggu dari nimor kata beregu pra pemula. Sedangkan empat medali perunggu lainnya disumbangkan Lisma Dany Syafruddin, M Iqbal S (kata beregu pra pemula putra), Bagas Panji Wijaya (kumite -45 kg pra pemula putra) dan Lisma Dhani S (kumite +45 kg pra pemula putra).

Peningkatan prestasi tersebut merupakan buah kerja keras para karateka yang sebelumnya digembleng latihan intensif,hasil kejurnas tersebut menjadi bekal Inkanas Bojonegoro untuk terus menggembleng atlet-atletnya. Kedepan harus latihan lebih keras lagi untuk mencapai hasil yang terbaik OSH….

“Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”

Awali hari dengan senyum, awali langkah dengan do’a, awali ramadhan dengan membuka pintu ma’af atas khilaf & dosa, MARHABAN YA RAMADHAN semoga banyak hikmah & berkah di bulan yang suci ini..

Segenap Keluarga Besar “INKANAS BOJONEGORO” mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa.

Salam Karate, Osh….